Laman

Selasa, 10 Januari 2012

Cerpen Pendidikan: Sekolahku di Pedalaman

Sudah lima tahun aku belajar di sekolah “Budi Makmur” ini. Sekolahku berada di daerah pedalaman. Kondisi sekolahku sangat sederhana. Hanya ada tiga kelas. Dindingnya terbuat dari papan dan kulit kayu. Sementara atapnya terbuat dari daun sagu, atau sering disebut daun rumbia oleh suku pedalam. Meja dan tempat duduk kami terbuat dari papan yang dibuat memanjang. Papan tulis hitam berukuran 1x2 meter menggantung di depan kelasku. Se-kolahku hanya berlantaikan tanah. Kalau hujan turun, airnya akan masuk ke dalam kelasku hingga menjadi becek.

Sekarang aku sudah kelas enam. Hanya ada empat orang murid di kelasku. Sedangkan guru yang mengajar di sekolahku hanya ada dua orang. Pak Nantan dan Pak Kurna, mengajar dari kelas satu sampai kelas enam.

Dalam belajar, kami dan guru senang membaur. Seperti mengerjakan latihan misalnya, kami sering mengerjakan dan memecahkannya bersama-sama, dan tidak malu-malu bertanya kalau tidak paham. Kami dan guru terlihat sangat akrab sekali!

Pulang sekolah hari ini aku dibonceng Pak Nantan naik sepeda ontel. Sedangkan Rizal, temanku, ikut dengan Pak Kurna. Kami sering dibonceng seperti ini karena rumah kami berdua paling jauh. Jarak rumah ke sekolahku empat kilo meter. Jam enam pagi aku sudah harus berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki melewati jalan setapak dan hutan belantara.

“Pak Nantan hari ini mancing ke sungai lagi? Boleh Ujang ikut?” tanyaku.

“Bapak hari ini memetik buah kelapa di kebun, Jang. Uang belanja sudah menipis. Besok kalau kelapa-kelapa itu sudah terjual, Bapak pasti akan ajak Ujang mancing di sungai!” janji Pak Nantan.
Aku sedih mendengarnya. Sudah lelah mengajar di sekolah, Pak Nantan harus memanjat kelapa lagi sesampainya di rumah. Kalau tidak, keluarganya tidak bisa makan. Karena dengan menjual buah-buah kelapa itulah Pak Nantan bisa mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Pak Nantan tak menerima gaji mengajar di sekolah, karena Pak Nantan hanya tamat SMP. Tapi niat baiknya ingin memajukan kampungku supaya bebas buta huruf dan pandai berhitung memang patut diacungi jempol.

Setahun yang lalu ada dua orang guru bantu yang dipindahtugaskan dari kota ke kampungku. Betapa gembiranya aku waktu itu. Aku berharap kehadiaran mereka bisa memberikan kemajuan bagi sekolahku. Namun harapanku itu kemudian pupus. Sebulan mengajar, mereka hanya empat kali datang ke sekolahku. Bulan berikutnya, mereka tak pernah datang-datang lagi ke sekolah. Ah, mungkin mereka tak terbiasa dengan keadaan kampungku yang terpelosok jauh berada di pedalaman.

Suatu hari Pak Nantan pernah bertanya kepadaku tentang cita-citaku. “Apa cita-citamu, Jang?”

“Aku ingin jadi seperti Bapak!” jawabku mantap.

“Menjadi guru?” Pak Nantan ter-senyum.

Aku mengangguk, “Aku ingin membuat kampung ini menjadi maju. Aku ingin semua orang bisa membaca dan berhitung. Kalau orang-orang di kampung ini sudah bisa membaca dan berhitung, pasti mereka bisa membangun kampung ini mejadi lebih maju!”

Mata Pak Nantan tampak berkaca-kaca mendengar penuturanku. “Pendidikan di kampung ini memang sangat menyedihkan. Tak ada guru-guru yang mau mengajar di kampung ini. Apalagi kebanyakan anak-anak seusiamu lebih memilih bekerja di ladang membatu orang tua mereka dari pada pergi ke sekolah.”

Air mataku menetes. Aku sedih sekali. Di rumah, seharusnya Abah dan Emak bisa membimbingku belajar dan mengerjakan PR. Tapi mana mungkin. Kedua orang tuaku tidak pandai membaca dan menulis. Malah suatu ketika Abah dan Emak memintaku untuk mengajari mereka membaca, menulis dan berhitung. Wah… Bagaimana mungkin? Apa aku bisa? Ah, tapi akhirnya kucoba juga. Setiap hari setelah pulang sekolah, aku pun mengajari orang tuaku membaca, menulis dan berhitung.

“Abah bangga padamu, Jang. Anak sekecil kamu sudah pandai mengajari Abah dan Emakmu membaca, menulis dan berhitung,” ujar Abah memujiku.

“Emak juga bangga, Jang. Berkat kamu sekolah, Emak dan Abahmu jadi tak bodoh lagi. Emak dan Abahmu sekarang sudah bisa membaca walaupun masih mengeja,” kata Emak lalu mencium kepalaku.

“Terima kasih,” ucapku terharu. “Ini juga berkat Abah dan Emak yang mau menyekolahkanku hingga aku menjadi pintar dan bisa mengajari Abah dan Emak di rumah, hehe…”
Abah dan Emak memelukku, dan menciumi kedua pipiku dengan penuh rasa sayang dan cinta.
Ah, kelak, aku harus bisa membangun kampung ini menjadi lebih maju! Aku ingin semua orang di kampung ini bisa membaca, menulis dan berhitung. Doakan aku, ya, teman-teman!***

Sebuah cerpen pendidikan oleh:
Surya Ismail
Mahasiswa Bahasa Inggris
UIN Suska Riau

Jumat, 06 Januari 2012

SURAT TERINDAH


Lembar demi lembar kubaca surat ter- indah yang Engkau ciptakan
Kadang aku tersenyum, kadang aku juga menangis
Ada sentuhan lembut sampai ke lubuk hati yang terdalam
Ada teguran halus membuat aku malu
Indah sangat indah seluruh untaian kata-kata Mu
Andai seluruh manusia di muka bumi mau membaca surat  Mu
Andai seluruh manusia mau meluangkan waktu nya untuk memahami surat- surat Mu
Andai seluruh manusia mau mengamalkan apa yang Engkau katakan
Apakah masih ada lagi kebodohan di muka bumi ini.....?
Manusia, terlalu sombong untuk mengakui diri nya bodoh
Manusia, seakan-akan tidak akan pernah yakin bahwa ajal akan menjelang
Manusia, seakan berpacu dengan waktu sehingga tak ada waktu untuk membaca  Surat Indah Mu
Manusia, hanya menempatkan Mu dikala bersumpah, hingga akhir sumpah pun tidak di tepati.
Al-Qur'an itu nama surat Mu yang ter-indah dan terlengkap
Al-Qur'an itu adalah petunjuk bagi orang-orang yang ber-Iman
Al-Qur'an membuat hati yang keras menjadi lembut
Al-Qur'an membuat hati menjadi damai....
Al-Qur'an membuat jalan hidup menjadi lurus
Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang
Berilah petunjuk bagi keluarga, saudara, sahabat-sahabat
Yang aku cintai, agar bersama-sama belajar untuk memahami
Surat Cinta yang Engkau ciptakan yang akan membawa pada jalan yang lurus dan benar
Amin...

Rabu, 04 Januari 2012

HARAPAN Ku, Kakak - kakak ku serta sahabat2 ku....

Bismillah....

Ya Allah di tahun 2012 ini saya berharap pa yang saya impikn dan kawan2 saya dapat terkabulkan...

Ya Allah saya berharap di tahun 2012 ini saya dapat menyelesaikan kuliah S1 saya,
Ya Allah yang maha melihat dan maha mengetahui engkau tau kemampuan hamba ini terbats,
engkau tw sgala kekurangan hamba,

Ya Allah semua ini takkan berjalan dengan lancar tanpa bantuan dari mu,,
hamba berharap dan berniat kalau semua ini akan ku selesaikan sendiri ,
hamba tidak ingin menyusahkan sahabat hamba,
hamba ingin menyelesaikannnya sendiri....
mohon bantuan mu Ya Allah,,,

permudahkanlah apa yang hamba, teman2, serta kakak-kakak hamba untuk menyelesaikan semua ini,,,
hanya kepadamu tempat kami memohon pertolongan.


Jumat, 07 Oktober 2011

SEMANGAT

Saudaraku 
inikah sebuah ujian
ujian yang mampu menydarkan mu
ujian yang mampu mengembalikan mu
mengembalikanmu ke jalan yang benar

saudaraku
sungguh terasa berat kehidupan yang kau alami disini
sakit hati ini melihat keadaanmu,
keadaan yang tidak layak,
keadaan yang tidak pernah ku bayangkan,

saudaraku,
aku sadar ini hanyalah ujian untukmu,,
ujian yang akan menyadarkanmu,,,,
sadar akan khilafan yang kau lakukan selama ini,,

saudaraku
ujian ini pasti akan selesai,
badai ini pasti berlalu,
tetap tegarlah,,,
Saudaraku
ku menanti senyuman indahmu,
ku menanti pelangi,
pelangi yang kau bawa kembali di rumah, dan kehidupanmu.


ENTAH KAPAN

kisah ini sudah lama,,,
kurang lebih setahun yang lalu,,
tidak ku sangka smw ini harus terjadi padamu,,,

ku merindukan canda tawa bersama mu,,,
bahagia saat kumpul di rumah,,,

tapi semua itu hanya kenangan indah yang mampu ku kenang,,,
tak ada lagi canda tawa,,,
keramaian yang kurasakan di rumah,,,

ku ingin tetap duduk diam,
ku ingin buang kenangan bersama mu,,,

tapi semua itu tidak mampu ku lalui,,
kebersamaan dan kebahagian bersamamu terlalu indah untuk ku tinggalkan,,,

terima kasih kakak atas pengalaman yang kau berikan,,,
ku menanti kedatangan mu,
senyuman indahmu di rumah,,,

tetap semangat kak,,,
kami semua merindukanmu,,,,

Puskom
7 Okt 2011

Selasa, 08 Maret 2011

MUHASABAH HATI







MUHASABAH HATI

Kuatkan diri Hamba-Mu Ya Allah


duhai hati..
bersabarlah..
selagi nyawa masih di jasad...
selagi roh belum bertemu Allah...
bekerjalah wahai jasad..
sebelum jasad dikebumikan..

Ya Allah..
Ampunkan dosaKu..
hambaMu yg lemah..dan hina..
terlalu banyak diriku berdosa..
tanpa aku sedar dan sengaja..

mungkin ini adalah ujian Allah..
kerana dengan ujian hambanya menjadi kuat..
aku tak pinta ujian sehebat ini..
kerana seolah-olah aku tahu tahap kemampuan diriku..
tapi aku 'kurang' sedar bahawa Allah lebih mengetahui tentang diriku..
ampunkan aku ya Allah..

aku menangis..menangis..dan menangis..
tiada seorang hambaMu yg mengetahui lara hatiku..
melainkan Engkau ya Allah..
sahabatku ramai..
tapi aku tak bisa meluahkan rasa hati ini ya Allah...
kerana aku terlalu kerdil...
hari ini aku menangis lagi ya Allah...
menangisi nasib diriku yg lemah...
bagaikan tak sudah2 ujianMu datang ya Allah..

aku penat ya Allah..
aku lelah ya Allah..
aku lemah ya Allah..
aku lemas ya Allah..

berdosalah aku kerana seolah2 tidak mampu menampung ujian Mu ya Allah..
ujian Mu yang terlalu kecil bagi rakyat Palestin..
aku belum berjuang dan berjihad..
tapi aku seolah2 sudah 'menyerah kalah'...

aku menangis lagi ya Allah...
Engkau tenangkanlah hatiku ya Allah..
hatiku yang sering runsing memikirkan perihal diri..
yang tidak sudah2 di uji..
kasihilah hambaMu ini ya Allah..
hambaMu yang lemah ya Allah..

kadang2 aku 'berlagak' seperti biasa..
kerana diriku tidak bisa meluah rasa pada manusia bergelar sahabat...
kerana aku sedar mereka hanya boleh..
mendengar..melihat...mensimpati..tanpa merasai...
diriku merasai...diriku mengalami....diriku adalah diriku...

ya Allah...
andai ini ujianMu yang paling hebat..
berikan aku kekuatan utkku hadapinya dengan tenang...
aku tidak ingin mengeluh..
tapi aku ingin meluah rasa hati..
bukan untuk memohon simpati manusia..
tapi memohon simpati...
memohon pertolongan..
dan memohon keampunan Mu ya Allah..
tabahkan hatiku ya Allah..
berikan petunjukMu ya Allah...
kuatkan hatiku ya Allah.....ampunkan dosaku ya Allah...

berilah peluang padaku utk bertaubat sebelum aku bertemu Mu ya Allah..
ya Karim...ya Rahim...ya Khaliq...
ya Rabb..ya Rabb..
ya Rabb..
ya Rabb.

Selasa, 22 Februari 2011

Renungan Kekurangan Diri




Awal malapetaka dan kehancuran seseorang terjadi ketika penyakit sombong dan merasa diri paling benar bersemayam dalam hatinya. Inilah sifat yang melekat pada iblis. Sifat inilah yang berusaha ditransfer iblis kepada manusia yang bersedia menjadi sekutunya.

Sifat ini ditandai dengan ketidaksiapan untuk menerima kebenaran yang datang dari pihak lain; keengganan melakukan introspeksi (muhasabah); serta sibuk melihat aib dan kesalahan orang lain tanpa mau melihat aib dan kekurangan diri sendiri.

Padahal, kebaikan hanya bisa terwujud manakala seseorang bersikap rendah hati (tawadu); mau menyadari dan mengakui kekurangan diri; melakukan introspeksi; serta siap menerima kebenaran dari siapa pun dan dari mana pun. Sikap seperti ini sebagaimana dicontohkan oleh orang-orang mulia dari para nabi dan rasul.

Nabi Adam AS dan Siti Hawa saat melakukan kesalahan dengan melanggar larangan Tuhan, alih-alih sibuk menyalahkan iblis yang telah menggoda dan memberikan janji dusta, mereka malah langsung bersimpuh mengakui segala kealpaan seraya berkata, "Ya, Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS Al-A'raf [7]: 23).

Demikian pula dengan Nabi Yunus AS saat berada dalam gelapnya perut ikan di tengah lautan. Ia tidak menyalahkan siapa pun, kecuali dirinya sendiri, seraya terus bertasbih menyucikan Tuhan-Nya. Ia berkata, "Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesunguhnya, aku termasuk orang-orang yang zalim." (QS Al-Anbiya [21]: 87).



Bahkan, Nabi Muhammad SAW selalu membaca istigfar dan meminta ampunan kepada Allah SWT sebagai bentuk kesadaran yang paling tinggi bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Karena itu, ia harus selalu melakukan introspeksi. Beliau bersabda, "Wahai, manusia, bertobatlah dan mintalah ampunan kepada-Nya. Sebab, aku bertobat sehari semalam sebanyak seratus kali." (HR Muslim).

Begitulah sikap arif para nabi yang patut dijadikan teladan. Mereka tidak merasa diri mereka sudah sempurna, bersih, dan suci. Allah SWT berfirman, "Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa." (QS Annajm [53]: 32).

Karena itu, daripada mengarahkan telunjuk kepada orang, lebih baik mengarahkan telunjuk kepada diri sendiri. Daripada sibuk melihat aib orang, alangkah bijaknya kalau kita sibuk melihat aib sendiri. Dalam Musnad Anas ibn Malik RA, Nabi SAW bersabda, "Beruntunglah orang yang sibuk melihat aib dirinya sehingga tidak sibuk dengan aib orang lain."